Monday, June 12, 2006

rolling

kaya ngantri buat di eksekusi..
benakpun kembali dipenuhi pertanyaan
kemana 'mereka' ngebawa kami
orang-orang suruhan yang hanya bisa...
mengangguk dan mengatakan siap!!!

seperti ada dia atas rollercoster
dengan 'full speed'...
menunggu nasib yang akan menghampiri
apakah mampu selamat
atau malah terbalik dan jatuuuh...

Friday, June 09, 2006

matinya cita

Keinginan untuk tetap seperti saat ini adalah hal yang sulit untuk digapai… terlalu banyak cobaan yang dilimpahkan ALLAH… baru saja ‘kehilangan’ yang tercinta, di lanjut dengan perginya “tonggak” jiwa..kini hanya ketidak nyamanan dan ketidak aman-nan merangkul diri...kekhawatiran merambah raga, enggan untuk berlalu..
belum usai membangun kembali runtuhan itu, kini kembali datang hal yang buat limbungku bertambah kencang..
salahkah jiwa bila ingin mempertahankan 'd comfort zone' yang baru aja digenggam?
sekarang bener-bener cuma bisa meratap gak tau harus bersikap kaya gimana.. walaupun bayak yang memberi nasehat..cuma kenapa semua saran yang terlontarkan dari mulut-mulut manis itu gak ada yang bisa nenangin hati yaaa..udah hampir satu minggu ketidak tenangan jadi bayangan setia..belum ketemunya jawaban buat hari suram tambah menghitam legam...gimana harus bersikap..gimana harus mencari jalan keluar ketika sadar bahwa beberapa orang di sekitar hanyalah orang-orang munafik yang punya seribu topeng untuk dipakai..terlalu banyak 'omongan' tak berkualitas di belakang...mulut-mulut banci dengan ucapan busuk memenuhi udara lantai 'rumah kedua'..
pecundang!!!!!

bener-bener deh,sampai detik ini belum tau gimana harus nenggepin semua 'cobaan' ALLAH.. karena kayanya benak udah capek sama semuanya...'mlayangnya' khayalan buat diri terlunta..walaupun sudah berteriak sekencang mungkin dan menangis sejadi mungkin..tapi gak berpengaruh sedikitpun.. heh!!!

Monday, May 15, 2006

Pengecut!!!

Gak pernah terbayang kalo sore ini bakal dapet berita yang cukup ngagetin... ada hacker masuk ke Fs abbie.. dia ngacak-ngacak profile bikin tulisan seenak udel-nya.. bener-bener gak pernah kebayang kalo ada orang setega itu sama abbie *ada seeh pastinya....*... mungkin becanda mungkin beneran.. kalu emang dia bercanda brarti dia orang ter NORAK di muka bumi.. kalo emang maksudnya beneran... gak usah pake nge-Hack Fs abbie, ngomong langsung ke abbie... pengecut,kampungan!!!
Maaf kalo yang baca Fs abbie dan blog abbie ini..
Bener-bener deh tuh orang... sampe gak ada kata-kata manis yang bisa keluar dari otak.. udah keburu marah....

*...mungkin emang dia gak punya tuhan, mungkin dia tergelak sekarang, mugkin kepuasan bertengger di rautnya yang penuh dengan bau busuk..satu harap terpatri... ALLAH membalas dengan sesuatu yang lebih mempermalukan dirinya...pengecut...*

Monday, October 31, 2005

Dewi malam telah datang
Merangkum cahaya mentari dalam pelukannya
Mengenalkan jiwa pada hawa dingin yang merobek kulit
Namun dialah yang paling setia
Menemani kesendirian dan kehampaanku
Namun dialah yang terkasih
Karena curahan asa yang menguatkan batin
Saat ke"gila"an mendatangi nurani
Harusnya lara itu kini pergi
Harusnya rasa itu perlahan bisa diendapkan
Karena keegoisan itu kini telah terkulai lemah
Terlalu banyak kegetiran
Terlalu banyak air mata
Yang hiasi hari nestapa
Namun yang ada hanyalah penantian demi penantian
Tak ada jera pada jiwa yang tertatih
Kuat cinta yang mengoyak mencengkram setiap nadi
Membelai kalbu yang terlunta

Sunday, September 11, 2005

Teruntuk Bang Ye

Tuhan beri aku penyejuk hidup// Seorang hawa/ yang dapat pecahkan hati yang telah membatu// Biarkanlah ia menyelami keringnya jiwa ini//
Tuhan telah lama rasanya/ waktu yang kutunggu// Kedatangan sang Bidadari /yang buat hariku berwarna// Biarlah ku rajut benang yang lama kupintal//
Tuhan dimanakah dia berada?// Malaikat mautku yang cantik//
Tuhan berikanlah aku/ tulang rusukku yag menghilang//

Kasih.../ mungkin ini klise//
Tapi sepengal do'a yang selalu kulantunkan dalam hari-hariku/ telah terjawab kini// Dia hadirkan dirimu di buramnya lembaran hidupku//
Sekali lagi rasa ini memacu adrenalinku// Membuat pacuan jantung berdetak lebih cepat//
Kasih.../ berikan penyejukmu untukku/ hilangkan dahagaku// Ku ingin pelukkanmu/ hangatkan hari-hariku// Ku ingin kecupanmu/ warnai dunia kelabuku//
Kasih.../ jamahlah nadiku/ buat ia melemah dan melembut// Tumpahkan senyummu/ hingga lagu cinta bermain di pelupuk benakku// Tuntunlah jiwa ini/ agar dapat ikuti kemana kau menuju//

Tuesday, February 15, 2005

SELAMAT PAGI

Pagi ini...Mentari terlihat cantik
Sama seperti biasanya..
Seperti anak perawan yang dipenuhi cinta
Gerakannya yang perlahan tapi pasti
Bagai lenggok penari keraton..anggun dan gemulai

Tapi sayang, sang Mentari tak mau berbagi
Memancarakan sedikit kehangat pedarannya untuk diri ini
Diri yang tengah dirundung lara
Jiwa yang terlunta karena kekecewaan

Hai..Sang Mentari...Tolonglah jasad ini
Dermakanlah sedikit dari pancaran"mu" itu
Agar dapat kulalui hari dengan"mu" temaniku
Supaya dapat ku-halau semua aral dan rintangan
Yang menghambat hembusan nafasku

BULAN DAN MATAHARI

Bulan bukanlah Matahari
Bulan penuh aura kelembutan
Matahari penuh aura kekuatan
Bulan selalu bersama peri-peri kecilnya
Sedangkan Matahari dapat berdiri pongah
Tegak...sendiri tanpa siapa-siapa

Mereka berbeda...Namun satu tujuan
Beri kehidupan dan pengharapan
Hanya pada saat jatuhnya embun
Dan pasangnya air laut mereka bertemu
Itupun,seakan tak cukup...
Untuk saling berkata-kata,berbagi cerita..
Berkeluh kesah dan tuangkan asa.

Kau adalah Mentariku
Tapi aku...bukanlah Bulan...apalagi Mentari
Aku adalah aku
Anak manusia yang haus dan penuh impian
Akan belaian dan timangan lembut Rembulan
Akan sentuhan kekuatan pancaran sayang sang Mentari

Tapi...hingga detik ini...
Semua hanyalah angan-angan
Semua tak pernah nyata
Semua semu...Semua palsu

Aku adalah aku
Anak manusia yang penuh dengan harapan
Tentang cinta Bulan dan kasih Matahari
Harapan demi harapan dan terus berharap
Hingga tak jarang tersandung dan terjatuh
Namun langkah selalu kembali diciptakan...

Tapi tetap...aku...adalah aku
Anak manusia yang tak luput dari muak dan lelah
Sampai kapan aku...sang anak manusia mampu bertahan
Tanpa Rembulan dan Mentari mengelilingiku??

Wednesday, February 09, 2005

JAKARTA KOE

Hari ini...aku kembali
Ke kota padat tempat aku lahir
Tempat yang seakan neraka abadi
Namun sekaligus surgawi

Sama seperti kemarin
Walau kelabu menyelimuti
Tak perduli hantaman angin
"Ia" tetap pongah...berdiri

Sedang aku...hanya terpaku
Berdiri diambang kebingungan
Antara nyata dan khayalanku
Antara amarah dan gairah
Yang merambah kedalam relungku

Masih ku termangu
Keadaan berputar cepat
Sedangkan aku...
Bagai berlari ditempat

Hmmm...aku yang bodoh
Atau memang bumi bergerak cepat?

Saturday, January 29, 2005

LIHATLAH

Rautmu...
Senyummu...
Lakumu...
Bayangi hari-hariku kini
Dimanakah kau berada ?
Dan ingatkah kau pada raga rapuh ini ?

Lihatlah kasih...
Aku yang telah terpuruk dicengkramanmu
Aku yang menuai derita dan rasa sakit yang kau beri
Aku yang telah engkau CAMPAKKAN...!!!!

LIMBUNG

Ketika asa itu kembali mendatangi kalbu
Kebimbangan kerap menaungi
Derap-derap keraguan takkan jemu
Mengelabui segenap nurani

Limbung rasaku kini
Layaknya pasir yang terombang-ambing diluasnya samudra
Dipermainkan tangan-tangan jahil sang bayu
Sedikit hampa tak luput buat jiwa goyah

Kapan jelasnya semua ini'kan berlalu
Meninggalkan jiwaku yang terlunta?
Sepertinya waktupun tak mau kalah pada keadaan
Ia berjalan dengan lunglai...lambat... & tak tentu arah

Kini jiwa,
Hanya bisa pasrah pada keadaan...
Nasib yang entah akan membawa diri pada kegetiran yang mana lagi

WAJARKAH??

wajarkah bila itu terjadi lagi??...
atau aku dianggap orang bodoh
yang tidak pernah belajar
dari pengalaman yan mengelilingiku??

wajarkah bila asa itu kembali ??
atau akulah si pecundang
yang tak pernah jera
atas kesedihan yang pernahku alami??

Monday, January 24, 2005

BIMBANG

Bimbang....
Entah mengapa rasa itu selalu membayangi
Keputusan yang harus kuambil
Bermuara pada rasa sakit dan kecewa
Saat harap mulai terbit
Maka kembali hancur berderai
Jatuh kepangkuan pertiwi
Sedang aku...tak berkutik
Hanya bisa menatap kosong
Dan kembali sendiri terselubung perih

Bimbang...
Antara harapku dan keinginanmu
Tak ada yang dapat kulakukan kini
Hanya bisa melihat kepergian asamu
Anganku hancur karna harus kembali kehilangan
Benakku tercabik karna harapanku sirna

Sampai kapan ku mampu bertahan?
Diantara badai kebimbangan

Sunday, January 23, 2005

OASSE

Penat bagai merajam tiap inci benak
Membelahnya menjadi beribu-ribu serpihan
Tak dapat lagi kaki melangkah
Belenggu itu terlelu erat menekan
Tak kuasa lontarkan jeritan kepedihan
Tercekat...tercekik panasnya udara
Dimanakah pelepas dahagaku berada?
Sadarkah ia akan kehadiran diri tak bernilai ini?
Haruskah jantung ini berhenti berdetak?
Agar kulihat nirwana bersamanya?
Haruskah nafas ini tersendat?
Agar mimpi bertemu dengannya menjadi nyata?

JARAK , WAKTU & KAU

Jarak...
Bukanlah pemisah,bukan pula penghalang
Satu uji akan asa yang tengah engkau jelang
Ketika hasrat bermain dengan api rindu
Kuatkah batin menahan semua godaan?
Saat gelora mimpi indah membelaimu
Bisakah nurani tetap berjalan lurus kedepan?

Waktu...
Dialah yangkan menjawab semua uji
Detik berganti menit yang kau lewati
Hari berganti bulan yang kau tapaki
Hanya gema nadamu yang membuai
Tanpa ada jasad yang temani hari

Mampukah kau lewati itu semua?
Mungkinkah dirimu tak tergoyahkan bayu?
Akankah ucap berbunga bahagia?

Hanya KAU dan WAKTU...sang pemegang kunci

ARTI-MU

Kau hadir dan menghampiriku
Ketika luka itu masih terkoyak
Ketika nestapa masih menyelimuti raga
Ketika hati masih dicengkram kepedihan

Tak ada kata yang terucap
Tak pula ada janji yang terlontar

Aku...membutuhkanmu
Seperti bunga butuh kesegaran
Seperti bulan butuh sang bintang
Ku butuhmu tuk kuatkan akar jasad

Bantuku...
Memulung serpihan dari nurani yang tercampakkan
Menopang tubuhku agar dapat berdiri pongah
Biar dapat ku tatap mentari pagi yang tersenyum
Agar dapat hempas semua aral

Riang inginku...Bahagia harapku...

INGINKU

Ingin ku,
Terbang tinggi tembus semua angan hampa
Leburkan semua rintangan yang hambat langkah
Menari tarian keceriaan bersama bidadari surga
Melantunkan lagu kebahagiaan bersama peri nirwana

Harap terpuruk sudah
Lebampun sperti hiasan di relung hati
Terlihat cantikkah aku dengan semua nuansa sendu ini..?
Ataukah awan kegelapan seperti naungi...?

Tapi entah mengapa...
Ku tak perduli dengan itu semua
Karna hanya satu bayangan yang naungi raga
Senyummu, candamu, tawamu yang mengusik jiwa
Menjadi satu bintang yang inginku gapai

Saturday, January 22, 2005

AKU PERGI

Aku pergi...
Membawa asa pada sang tercinta
Walau kini telah ia hempas asa itu
Walau kini ia buang rasa yang pernah ada

Aku pergi...
Terselip damba pada nurani
Kau dapat hapus luka itu
Kau dapat kuatkan hati ini

Aku pergi...
Tergantung harap pada kau disana
Untuk tak pergi dan menjauh
Untuk menghibur jasad ini

Saturday, October 23, 2004

S E N D I R I

Harap pada embun yang membasahi raga
Ketika sekilas bayangan itu hadir di sukma
Kau hanya berlalu...pergi entah kemana
Menghilang tak tersentuh angan rapuh
Sedang jejak yang kau tinggal di sudut relung
Seakan terlupakan dan terbengkalai
Hanya aku....
Hanya aku yang mencoba tetap menyemainya
Dengan sejumput harapan hampaku
Dengan sisa mimpi terakhirku

Wednesday, October 20, 2004

S E P I #3

Tanpa lelah
Ku torehkan bayanganmu di benak
Menemani hari-hari sepiku
Karena kau tak lagi disisi
Kau pergi dan berlalu
Membawa semua ceriaku
Tinggalkan goresan demi goresan luka
Kini,
Hanya bayangan wajahmu
Temani jiwa sepiku
Sahabat hari sendiriku
Kini aku, sepi dan sendiri

Friday, October 15, 2004

S A Y A N G

Kau…
Telah membelai nurani ini
Menyusup kedalam jiwaku
Menyematkan untaian bahagia di raga ini
Juga telah memelukku dengan keagunganmu

Tak pernah diri ini berharap
Tuk kau hilang dari hari-hari gelap
Tak pernah aku berkhayal
Kau pergi meninggalkan diri
Terkurung dalam asa yang sunyi

Kau…
Jangan bawa bahagiaku bersama mu
Hilang dalam pekatnya pelukan malam
Terkubur dalam jurang tak berdasar

Bersamamu kulihat nirwana
Disampingmu kudendangkan lagu bahagia
Kau...Harapanku
Penerang jiwaku...Penenang hatiku
Ku mohon satu asa
Jangan pernah tinggalkan diri ini
Diri yang penuh dengan luka


J A N J I K U

Dua musim ku tapaki
Membangun dinding berbalut kokohnya ombak lepas pantai
Mencoba bertahan dibalik dinginnya dinding ini
Sendiri, menatap mentari dan menyongsong pagi

Dua musim ku lalui
Telah kutetapkan dalam hati yang tertatih ini
Satu sumpah yang mengalir dalam nadi
Takkan pernah lagi disakiti

Dua musim ku lupakan
Nyatanya...
Entah untuk yang keberapa kali...
Ruh ini kembali tergores dan terluka

Terkasih yang kusayangi
Hingga hati ini terpaut pada tulusnya memberi
Hingga denyutan nadi bagai dendangan bidadari
Meruntuhkan dua musim yang kugapai

Sesal???
Tak pernah terpatri,hanya pengharapan tak berujung

Tuesday, October 12, 2004

K A U

Coba curahkan yang menyesakan nurani
Tetesan demi tetesan air mata
Seakan tak pernah berhenti berderai

Sayang yang ku miliki
Justru membuatmu pergi
Kau menjauh dan menghilang lagi

Sesak sudah memeluk raga
Coba bertahan dengan semua daya
Tapi entah kau dimana?

Sedikitpun tak kurasa aura pedulimu
Saat kau buat hati ini terlunta
Saat kau buat jiwa ini merana

Sunday, September 19, 2004

AKU KEMBALI

Hai lembar tua lusuhku
Apa kabar hari-harimu
Tanpa sentuhanku
Tanpa tatapanku

Lama sudah tak kusapa putih lembarmu
Dngan coretan sembarangku
Apakah harimu penuh haru
Atau kau bebas dari segala sedu sedanku?

Kerap jiwa ini rindu buaianmu
Ingin dekapan hangatmu

Kini ku kembali...
Membawa derai tawa dan air mata

Friday, July 23, 2004

T E G A R

Layaknya bunga dipadang pasir
Berdiri tegap ikuti hembusan bayu
Menantang dingin malam
Dan panasnya terpaan mentari

Seperti oasse penghapus dahaga
Sumber pelepas semua derita
Hadir untuk memberi kedamaian
Bagi pengelana tanpa tujuan

Wahai malaikat pelindungku
Tetaplah berdiri tegap
Tantanglah semua aral yang menjelma
Jangan ragu atas asa yang menyelubungimu

Wahai malaikat pelindungku
Tetap kibarkan semangatmu
Sirami kami dengan bijaknya katamu
Lawan kegontaian jiwamu

Wahai malaikat pelindungku
Kami akan selalu mendampingimu
Seperti kau hilangkan dahaga kami
___4 my Guardian Angle___

Monday, July 19, 2004

S O B A T #2

Sobat,
Pembicaraan terakhir kita
Bagai air yang menyirami gurun jiwa
Memberi pencerahan dan kekuatan

Sobat,
Maaf bila kelakuanku
Sayatkan hati terdalammu
Mencabik hingga luka terkuak

Sobat,
Ingat bintang yang dulu kita tatap?
Ingat rembulan yang biaskan pedaraanya pada ombak?

Sobat,
Jangan buang bintang itu
Karna "dia" adalah penghubungku
Menuju dunia luasmu
Jangan buang mukamu dari rembulan itu
Karna "dia" adalah satu-satunya pelipur laraku
Saat jiwa terpaut aral

Sobat,
Terima kasih atas bentangan tanganmu

Monday, July 12, 2004

R A S A M U

Kau hadir bagai bayangan
Tak bisa kusentuh
Tak juga bisa kurengkuh

Tiba-tiba...
Kau pergi bagai angin
Secepat kau naungi hatiku
Tak dapat kugapai ragamu

Dimana hatimu berlabuh kini
Dimana jiwamu kini terdampar
Pantai dan ombaknyakah
Atau gunung dan kesejukannya

Tampakkah diri ini dibenakmu?
Atau sekedar hitamnya kegelapan?

Kutungga jawabmu...
Lewat bulan yang tertutup awan
Dan bintang yang mengerling nakal

Sunday, July 11, 2004

TOPENG = MUNAFIK

Lepaskan topeng itu!!!
Topeng perangkap yang kau kenakan.
Topeng kebaikan yang menyelubungi niat licikmu
Topeng yang telah membuat kau merasa hebat

Bakar topeng itu!!!
Bakar hingga tak berbekas
Hingga sifat aslimu terpancar
Bakar bersama isi jiwa iblismu

Jangan pernah lagi kau beri pengharapan
Ketika nuranimu bermain dengan kebohongan
Ketika batinmu masih bersekongkol dengan kemunafikan

Saturday, July 10, 2004

R A S A K U

Tatap mata itu sempat luluhkan hati
Sunggingan senyum itu hancurkan pertahananku
Tutur kata itu meresap dalam benak

Angin...bulan...dan bintang
Mereka semua lagukan kebahagiaan
Mereka lenggokan keceriaan

Seiring...senada
Asa yang terasa
Bagai nirwana beri kesejukan
Seperti pelukan bidadari beri kedamaian

Datanglah....datanglah kemimpiku
Tebarkan aroma maskulinmu
Biar aku rasakan kehadiranmu
Agar dapat kujamah setiap inci nadimu

Tinggal...tinggallah dihatiku
Beri aku kekuatan atas rasa ini
Yakinkan benak ini akan dirimu

Friday, July 09, 2004

G E T I R

Ketika mendung gelapkan langkahku
Tak ingin ada yang menghalangi
Bila ada...
Jiwa ini kan merasa terancam
Terkatung dan terombang ambing
Nurani kan lelah dengan ketidakpastian
Juga pengharapan tak berujung

Galau....
Saat hitamnya awan jamah raga
Ketika cengkraman kepedihan terlalu menyesakan

Getir...
Saat hasrat dibanjiri kekecewaan
Ketika Lautan tak lagi menderu

K A U D A N A K U

Rasa yang ada tak berbeda jauh
Kau dengan amarahmu
Aku dengan kesensitifanku
Kau dengan kekecewaanmu
Aku dengan kegalauanku

Tak akan bertemu
Air dengan minyak
Tak juga kan bercampur
Kekecewaanmu dengan kegalauanku

Bukan kau yang salah
Aku yang terlalu terbawa emosi

Mungkin kesendirian cocokku untukku saat ini
Walau itu akhirnya menyakiti kalian semua
Walau pada akhirnya...tetap aku yang terpuruk
Maaf...tak ada hati bermaksud
Tak ada pula ingin raga

K E Y A K I N A N

Tentramkan tiap langkah kecilmu
Dengan kepastian dan keceriaan
Tinggalkan semua yang mnyesakan kalbu
Tinggalkan semua yang menyedihkan

Jangan pernah terlena..
Terlena akan tangan laknat kesedihan
Terlena akan belaian keterpurukan

Rajut asa yang penuh bunga
Yang merebakkan aroma keceriaan
Yang diselimuti kain kedamaian
Dan terselubung ketentraman

Beri pelukkan besar
Pada kebaikan yang mengunjungimu

Sunday, July 04, 2004

N Y A T A

Diantara pekatnya awan-awan hitam
Terpancar sinar anggun sang Purnama
Mencoba menerangi jagad dengan sisa pendarannya
Ia ciptakan aura ketentraman
Ia bisikan janji tentang kedamaian
Ia limpahkan anugrah ditempatku berpijak
Ahhh...Kankah itu semua nyata??

Nyata...
Senyata harumnya mawar
Seasli degupan jantung
Selayaknya jalan yang kutapaki

L E T T E R

Abbie...
Telusurilah jalan setapak ini
Ikuti kemana kakimu menuju
Biarkan ocehan para kera
Lanjutkan langkah kecilmu
Toh mereka tak selalu ada untuk mu...
Toh mereka bukan yang bisa kau andalkan
Toh mereka hanya topeng-topeng yang bertebaran
Yang terombang-ambing karena kepalsuan

Abbie...
Walau kau telah tapaki hari
Dengan ayunan kesepian dan kesedihan
Dengan duka,derita dan kecewa
Tetaplah ayunkan kali-kakimu
Dibawah sinaran mentari
Coba menatap pancarannya
Coba resapi sentuhan hangatnya
Coba hayati kehadirannya

Abbie...
Yakinkan relungmu...
Rembulankan tetap tersenyum
Bintangkan tetap menari
Para bidadarikan tetap menjamahmu
Mengajakmu kebatas cakrawala
Dengan bentangan sayap putihnya
Dimana kaukan lihat dan rasakan
Tulusnya orang-orang yang mencintaimu
Kasih mereka yang tak terbalas
Mereka semua adalah
Sebongkah kebahagiaan sejati...

Friday, July 02, 2004

S E P I #2

Arakan awan menari iringi senandungku
Gerakan sapuan angin...bergoyang..berputar
Memanggilku untuk sedikit bernada
Menarikku tuk nikmati malam ini

Keterkucilan memang merambah jiwa
Tapi...
Waktu tetap berjalan
Dan tetap menuntunku pada kesendirian tanpa batas

Kan kunikmati setiap tarikan nafas
Berharap semua berubah
Hantu-hantu yang bermain dengan perasaan
Bayangan hitam yang berbentuk pengkhianatan
Bayang yang mengetuk kedamaianku

P U R N A M A

Malam ini purnama tersenyum padaku
Menyelimutiku dengan damai panjang
Senyumkan membias...
Saat cahaya purnama menyentuhku

Andai bisa kurengkuh sedikit
Cahaya yang memahkotai malam
Cahaya yang menyebarkan rasa tentram
Mungkin tak begini jadinya

Sebanyak apapun bias lampu kota
Sinar rembulan tetap pancarkan keanggunannya
Walalu mendung menjamah surya
Sinar purnama takkan pernah redup

Andai bisa kugenggam sedikit
Aliran kehangatan sang pesona

Wednesday, June 30, 2004

S E P I

Sepi,sendiri
Rasaku malam ini
Tempat yang dulu selalu kudatangi
Kini berubah suram
Sama seperti yang melanda hati
Serasa kosong hari-hari yang kujalani
Mungkin karna kau tak disisi
Atau karena semua menjauh
Dan berlalu

Ku duduk disini
Bangku tempat kita berbagi
Sendiri
Kucoba tetap bersenandung
Sepi
Terasa menyelubungi kalbu

Hmmmm...sampai kapan aku harus menunggu
Semua kembali diterangi mentari dan rembulan...

Wednesday, June 23, 2004

B E S T F R I E N D's

Marga yang melekat padamu menjadikanmu wanita kuat
Wanita yang nyatanya tidak sekecil tubuhnya
Bagai embun dipagi hari,
Terkadang kau memberiku kesejukan
Bagai pedang ksatria-ksatria,
Perkataanmu dapat meluluhkan atau bahkan menyayat jiwa.
Kau dan lakumu,luluhkan jasad ini
Untuk kembali mengenal arti sayang dan berbagi
YOLANDA,nama unik untuk seseorang yang tegar.
Tak ada aral yang mampu menghadang jalan dan menghimpit gerakmu
Ketangguhan telah tertanam dijiwa bajamu
Kau laksana elang dengan kepakan sayapnya
Wanita perkasa dalam balutan anak kecil.

Karna satu hal,kita berdekatan
Berlanjut pada hubungan yang lebih sekedar teman
Rasa nyaman yang kupunya berbalas dengan ketulusan jiwamu
Hidupku berubah seiring langkah yang kita buat
Kau tulari aku dengan segala canda tawamu
Walau terkadang,sikapmu menyesakan jiwa ini
Walau banyak konfrontasi dibelakang
Kau tetap bertahan dengan keyakinanmu
LOPIANI,tidak hanya sebuah nama untukku
Keteguhan dan keanggunanmu menyeruak lewat lagumu
Parasmu yang tirus tetap memancarkan aura kemandirian
Kau juga kuatkan jasad ini tuk kembali mencoba
Wanita cantik yang dibilas aura kecerdasan

Teman pertama dilingkungan baru
Kita sempat terbatas jarak dan pekerjaan
Tapi,waktu masih memihak pada kita
Lesung yang terlukis diwajahmu ceriakan suasana
Banyak rahasia yang telah kita bagi
Dedikasimu yang terlampau tinggi tak menghalangimu
Mengepakan senandung lagu kebahagiaan kita
Melakukan satu hal yang kau suka
MAULANA,nama yang menggambarkan jalannmu
Lelucon segar yang kau lontarkan mewarnai hari kelabuku
Kau juga dapat membuatku kembali mengenal tawa dan canda
Kau teman terunik yang dapat larutkan amarahku
Bingkaian pria yang lembut dan sensitif terwujud padamu

Satu bintang,tujuan kita
Kembali pada kedamaian malam dan kehangatan sang bayu
Kelamnya malam satukan kita dalam ikatan persahabatan
Ada kalanya jasad merasa terhempas jauh darimu
Namun saat bintang menjelma kita kembali satukan nurani
Pendirianmu yang khas tegapkan setiap langkah
Tak ragu atas aral yang menghadangmu
JUNIAWAN,lelaki hitam penuh percaya diri
Pendirianmu tak tergoyahkan walau badai datang
Kau dan percaya dirimu laksana batu yang menempel pada karang
Petikan jemarimu terkadang lantunkan suara hatiku
Kau dan gitarmu layaknya nelayan dengan kailya

Wanita mungil berjilbab putih
Kegetiran hidup membawa kita pada kedekatan
Kau ada untukku saat jiwa meronta lelah
Tak perduli akan anggapan sekitar
Kau maju demi meraih anganmu
Kau kalungkan kesetiakawanan dihatimu
Kau buatku melihat semua dalam sudut pandang berbeda
Sekarang kita memang jauh,tapi yakinlah,kau tetap sobatku
RISMAYANTI,salah satu nama yang ada direlung kalbu
Lenggokan sikap ceriamu menemani langkah kaki
Sikap tutup mulutmu terkadang membuat tanda tanya dibenak
Tapi semua hilang saat kata-katamu cerminan harapanku
Wanita pamain api yang diselubungi kelincahan

Kalian,teman terbaik yang aku punya
Tak ada niat nurani untuk menyakiti kalian
Bila kalian memang pernah,dan pasti pernah,tersakiti oleh jiwa yang tertatih
Maka maafkan aku segenap salahku
Terimakasih sobat
Aku bersyukur dengan anugrah yang hadir menemani hariku adalah kalian
Terimakasih sobat
Kau limpahkan jiwa kotor ini dengan ketulusan kalian...
Aku sayang kalian dan tak pernah terbesit untuk kehilangan kalian,

Wednesday, June 09, 2004

O R A N G T U A

Temukan kedamaian batin dan jiwa
Saat melihat garis tua diwajahnya
Saat meraba keriput di raut tulusnya

Mereka,
Dua orang yang akan selalu kucinta
Dua orang yang selalu mendampigi diri dengan senyum kedamaiannya
Dua orang yang membuatku mengenal dunia

Walau terkadang terlihat jelas dengan jelasnya
Batas kelelahan disudut mata mereka
Tanpa jemu dan lelah
Mereka menuntun jiwa rapuhku
Menuju dunia yang berwarna

Maafkan aku...
Terlalu sering raga ini melukai kalian
Tak bisa menjadi seperti yang kalian harapkan

Tapi percayalah,
Akukan lakukan yang terbaik diri bisa lakukan
Demi kalian...Bunda dan Ayah tercintaku...

Sayang yang kalian beri
Takkan bisa kusetarakan dengan rasa ini..
Kalian layaknya nafas nirwana
Kalian,satu bukti keagungan Tuhan
Kalian dengan keanggunan
Selalu siap tuk menerima jiwa hina ini
Aku sayang kalian...
Cibodas,05 - 06 Juni 2004

Tuesday, June 08, 2004

BELAHAN JIWA

Ketika malam menjelang
Kudengar hembusan lembut nafasmu
Terbayang raut tulus wajahmu

Kau pesonaku
Kau pelipur laraku
Kau degupan jangungku

Tahukah engkau...
Disudut hati yang terdalam
Nurani ini menjeritkan namamu
Nama yang menghantui setiap detik berlalu

Tahukah engkau
Lewat desiran angin
Sayup-sayup kudengar suaramu
Suara yang telah menggetarkan sukma

Tahukah engkau
Jiwa memimpikan hadirmu
Jiwa mendamba belaian lembut jari-jemarimu
Jiwa termenung mengingatmu

Riang tawamu,menyeruak benak
Memberikan hari baru
Meneteskan butiran embun
Menyejukan setiap langkah

Tapi,dimanakah dirimu berada
Sudahkah kita bertemu ?
Kapan kaukan menyinari hariku ?
Kan ku nanti dengan keutuhan setiaku

D O ' A K U

Rumah tua diujung jalan ini.
Layaknya kastil tua tak bertuan
Bermandikan cahaya rembulan.
Dikelilingi bintang nan gemilang.
Walau tertutup awan gelap.
Tak pernah lepas aura keanggunan.

Jangkrik yang saling bersahutan.
Menyanyikan suara alam.
Keheningan malam seperti ini
Layaknya suasana hati

Semilir angin malam,terbangkan salamku padanya
Katakan hati ini telah terpaut
Setiap helaian nafas 'kan kupersembahkan untuknya.
Karna benak menjelmakan paras angkuhnya.

Bintang nan jelita
Sampaikan harapku pada Sang Pencipta
Pulihkan keadaan suram ini
Jadikan hari yang selalu disirami
Hangatnya mentari pagi dan sejuknya rinai hujan....
DO'A ku....
Cibodas,5 - 6 Juni 2004

Thursday, June 03, 2004

L A M U N A N

Waktu berselang sejak kutulis bait syahdu untukmu.
Rasa kucurahkan dalam penggalan demi penggalan kata-kata tak bertuah.
Remukan dan serpihan hatipun terlampir didalamnya.
Mungkinkah engkau menyadari...atau sekedar mengetahui.
Bahwa semua berujung padamu...
Hmmm...aku bahkan ragu tuk mengucapkan secuil dari lantunan kepedihan itu.
Terselip rasa takut akan kehilangan bila kata terucapkan...
Jiwa bahkan tak mau bermimpi kau kan pergi dari sisi...
Terkadang saat malam menjelang,ku lantunkan nada kerinduan untukmu.
Kutitipkan salam pada rembulan yang melengkungkan senyumnya...
Tak jarang kucurahkan semua impian pada bintang yang mengerling,seakan menggoda jiwa rapuh ini...
Sekelibat terlihat binatang malam terbang dibatas cakrawala...
Berkhayal raga memiliki sayap-sayap itu...
Sayap putih yang bertenger kokoh dipunggung.
Layaknya bidadari nirwana...diri terbang tinggi diatas...
Dengan leluasa pergi kemanapun ku suka
Terbang menembus awan melewati pelangi yang terlukis dilangit luas...
Melayang diatas hamparan hijaunya pulau-pulau tropis...
Terbang melupakan semua aral yang menghadang...
Pergi mencari tempat perlindungan bagi jiwa yang terlunta.
Akh...itu semua hanya lamunanku...
Satu lagi lamunan tak berarti yang selalu menemani saat jiwa merasa sendiri dan kesepian.

Wednesday, May 12, 2004

P E N A K L U K

Ketukan senyummu, menggugah hatiku
Meninggalkan jejak yang sulit kuhapus
Kehadiranmu, mengusik nuraniku
Merobohkan dinding pertahanan yang telah kubangun
Kau datang saat jiwa ini terluka
Mengobati dengan canda tawa yang kau hadirkan
Kau berikan lagi kebahagiaan
Rasa yang telah lama ku lupa
Rasa yang sudah lama tak kukecap
Kau pengobat rinduku
Kau juga yang membuat hariku indah
Menebarkan suka dan ceria
Kau mentariku, yang menyinari hari gelapku
Kau rembulanku, yang menemani lelap tidurku
Kau sinar bintangku, yang merangkulku dengan mimpi indah

Thursday, May 06, 2004

A B U - A B U

Terdampar disini
Antara hitam dan putih
Tak ada yang dapat membedakan
Kecuali hati yang penuh dengan kesedihan

Topeng yang dipakai
Mampu menutupi semua
Kecuali hati yang lirih
Dan jiwa yang tertatih

Wajah ceria yang ditawarkan
Tak sebanding aura lirih yang terpancar
Senyum manis yang tergores
Dampak dari luka yang terpendam

Tersingkir dalam kelamnya asa
Terhapus dari harapan kosong
Sirna, hilang tak berbekas

Thursday, April 29, 2004

T U L A R I

Palingkanlah wajah ceriamu
Berikan setetes dari kebahagianmu
Tulari dengan segala gelak tawamu
Hilangkan amarah yang menyelimuti sukmaku
Lenyapkan dahaga akan kasih dan sayang
Bawa pergi semua suram atas jiwa
Bebaskan jasad ini dari cengkraman maut
sang pendusta dan sang penghianat
Inginku kecap rasa itu
Satu asa yang akan menghuni hatiku
Menemani tidurku dengan senyuman
Hingga aku terbangun dan melewati hari

A J A L

Gaungan yang mengganggu lamunanku
Datang dari laras tak bertuan
Pergi dan melesat kearah tujuan
Berlabuh pada salah satu tulangku
Jatuh ketanah, bersimbah darah
Tak ada lagi rasa iba
Tak tersimpan lagi rasa kasih
Semua diam, semua bisu
Tak ada yang mencoba menolong
Sedangkan aku,
Terbaring tak berdaya
Melihat sebilas cahaya diujung mata
Kurasakan silaunya yang membutakan
Coba keluarkan sepatah kata
Pita suara seakan terbakar
Tergeletak aku, sendiri, tak berkawan
Menunggu tangan-tangan kematian
Merenggut satu-satunya yang aku punya
...HIDUPKU...

Wednesday, April 28, 2004

T E R L U P A K A N

Disudut kota tua itu kita pernah mengalami masa indah
Bergandeng tangan dan saling berpelukan
Tak terasa sinar mentari yang menusuk kulit ari
Tak hiraukan gumpalan debu yang mengotori udara
Tak perduli jeritan roda delman yang berputar
Seirama dengan iringan sang bayu
Kau perkenalkan rasa sayang dan haru
Kau juga berikan aku asa baru
Saat itu bunga dihati mulai merambah
Menebarkan harum mewangi
Kenangan itulah yang kusimpan hingga kini
Tertata rapih dalam relung kalbu
Meskipun kau entah dimana
Walau kau telah memberikan harapanmu pada sang tercinta
Dan aku tau pasti, kau telah melupakan jiwa ini...

Tuesday, April 27, 2004

B L A C K W I T C H

Aku...
Penyihir hitam yang hadir dari kegundahmu
Penyihir hitam yang terlahir dari ketakutanmu
Penyihir hitam yang menyelubungimu dengan kegelapan
Penyihir hitam yang selalu membayangi langkahmu
dengan semua kemarahan dan kegagalan

Aku...
Akan menyihirmu dengan mantra-mantra hitamku
Hingga kau terjatuh dan tak berdaya
Hingga kau ditinggalkan orang-orang tersayangmu
Hingga kau tak lagi mengenal tulusnya senyuman dan gelak tawa

Aku...
Akan membuatmu membenci semua yang ada di muka bumi
Aku akan membuatmu mengutuk semua yang bergerak dan bernyawa
Aku juga akan membuatmu menyesal telah mengenal rasa sayang dan cinta
Kan kutanamkan rasa curiga terhadap semua insan
Dimana kau tak lagi merasa aman melangkahkan kaki di jagad ini

Saat itulah,
Akan kusambut engkau dengan dua tangan laknatku

D E B U

Ruangan yang dulu tempat kita bersua
Kini telah tertutup butir-butir debu
Tak lagi menyalurkan kehangatan
Tak lagi memberikan kegembiraan
Tak lagi ada cahaya yang menyembul dari jeruji jendela
Semua tertutup tebalnya kesedihan
Terkurung dalam kotak kenangan
Kotak tua yang tertutup rapat
Kotak tua disudut ruang tanpa ada yang memperhatikan
Kotak tua yang terbengkalai dan hampir bersatu dengan debu